header image
Fungsi Penentu dalam Gramatika Bahasa Jawa
Nama Peneliti
Anggota Peneliti
:
Instansi/Jurusan : Jur. Sastra Indonesia FSSR
Jenis Penelitian : Penelitian Dosen Muda
Lokasi
: Surakarta
Bidang Ilmu : SASTRA/FILSAFAT
Tahun : 2006
No Telp :
Abstract :
FUNGSI PENENTU (DETERMINER) DALAM GRAMATIKA BAHASA JAWA Oleh Drs. F.X. Sawardi, M. Hum. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS. Penelitian ini adalah penelitian sintaksis bahasa Jawa secara deskriptif dari sudut pandang teori X-bar. Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah penentu dalam bahasa Jawa. Konsep penentu yang dianggap universal seperti yang dikemukakan Chomsky diterapkan dalam bahasa Jawa. Pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: (i) apa ciri sintaktik penentu dalam bahasa Jawa? (ii) butir leksikal apa saja yang dapat yang termasuk kategori penentu dalam bahasa Jawa? (iii) dalam kondisi apa frasa nomina lebih tepat dianalisis sebagai frase penentu dan dalam kondisi apa frase nomina tetap dianalisis sebagai frase nomina? (iv) bagaimana model tata bahasa formal menjelaskan penentu bahasa Jawa? Penelitian ini menggunakan dua teori yaitu teori X-bar dan teori Tata Bahasa Leksikal Fungsional (TLF). Teori X-bar digunakan untuk mengungkapkan masalah penentu dalam bahasa Jawa, dan teori Tata Bahasa Leksikal Fungsional digunakan untuk menjelaskan fenomena yang sama dari segi tata bahasa formal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif tentang sintaksis bahasa Jawa. Data yang diperlukan berupa kalimat yang menggunakan penentu. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah dua buku cerita karya GP Sindhunata yang berjudul Aburing Kupu-Kupu Kuning (akk) (terbitan Kanisius 1996), dan Nderek Sang Dewi ing Ngereng-erenging Redi Merapi (nsdnrp) (terbitan Kanisius 1995). Di samping itu penetian ini juga menggunakan sumber data dari infroman maupun percakapan di antara penutur bahasa Jawa di rumah maupun di luar rumah di sekitar penulis tinggal. Hasil penelitian ini adalah seperti berikut. Pertama ciri penentu secara sintaktik adalah penghubung antar nomina dengan frase nomina. Hubungan tersebut tidak terbatas pada hubungan endoforis tetapi juga hubungan eksoforis. Karena itu penelitian penentu sebenarnya tidak cukup hanya dari segi sintaktik saja tetapi perlu diperluas dari segi wacana/ pragmatik. Kedua, berdasarkan ciri tersebut penentu digolongkan menjadi dua yaitu penentu yang berupa akhiran dan penentu yang berupa butir leksikal. Penentu yang berupa akhiran adalah akhiran -e/ -ne dan akhiran -ipun. Penentu yang berupa butir leksikal adalah iki 'ini', (n)iku 'itu', menika 'ini' (krama), wau 'itu/tadi', mekaten/makaten 'begitu', kasebat 'tersebut', sawijining 'suatu /seorang'. Kegita, dari pembandingan antara frase nomina sebagai subjek dan frase nomina sebagai objek, ada kecenderungan bahwa nomina yang menduduki subjek gramatikal lebih tepat dianalisis sebagai frase penentu dibandingkan dengan posisi objek gramatikal. Keempat, penentu dianggap sebagai kategori gramatikal seperti halnya kata sifat atau adjektiva, atau kata depan. Bila subjek gramatikal dianalisis sebagai frase penentu, verba sebagai predikatornya sudah memberi informasi bahwa nanti subjeknya harus memiliki fitur sebagai frase penentu. Model tata bahasa Leksikal Fungsional menjelaskan dengan menambahkan fitur pada predikator bahwa subjek gramatikal harus berpenentu. Sebaliknya aliran ke objek tidak dipersyaratkan seperti itu karena objek dapat frase nomina saja.
Info Komputer
 
  • CCBot/2.0 http://commoncrawl.org/faq/
  • 54.204.66.38
  • Who's Online
     
    Randomize Profile
     
    Statistik
     
    Langganan RSS