header image
FILOSOFIS PATUNG "LORO BLONYO": Expresi Simbolisme Mitos Dewi Sri dan Raden Sadono dalam Sistem Kepercayaan Masyarakat Jawa
Nama Peneliti
Anggota Peneliti
:
Instansi/Jurusan : Jur. Seni Rupa Murni FSSR
Jenis Penelitian : Penelitian Dosen Muda
Lokasi
: Surakarta
Bidang Ilmu : SENI
Tahun : 2006
No Telp :
Abstract :
Filosofis Patung "Loro Blonyo" : Expresi Simbolisme Mitos Dewi Sri dan Raden Sadono dalam Sistem Kepercayaan Masyarakat Jawa oleh: Untung Murdiyanto Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : keterkaitan mitos Dewi Sri dan Sadono dalam hubungannya dengan ritual kesuburan bagi masyarakat Jawa, keterkaitan mitos Dewi Sri-Sadono dengan expresi visualisasi patung loro blonyo dalam sistem kepercayaan masyarakat Jawa dan untuk mengetahui makna filosofis patung loro blonyo dalam masyarakat Jawa. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di Surakarta, dengan teknik sampling yang bersifat purposive. Sumber data mencakup informan, tempat/peristiwa dan analisis isi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, pengamatan dan arsip/dokumen, sedangkan validitas dengan triangulasi dan review informan. Teknik analisis menggunakan model interaksi. Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana diuraiakan di depan, maka dapat disimpulkan beberapa hal antara lain: 1. Keterkaitan ritual kesuburan dengan dewi Sri dan Sadono sangat dipengaruhi oleh mitologi dan kosmologi Jawa. Keberadaan dewi Sri dan Sadono dalam cara pandang orang Jawa diyakini sebagai konstruksi pemahaman asal-usul manusia yang harus dihormati sebagai leluhur Jawa. Kesuburan merupakan ritual sistem kepercayaan Jawa yang diyakini berasal dari serba pasangan yang kemudian mendatangkan dampak kemakmuran dan kesejahteraan hidup 2 Expresi loro blonyo merupakan visualisasi mitos dewi Sri dan Sadono. Keberadaannya terbentuk sebagai akibat dari proses kreatif tangan seniman pengrajin sebagai perintah penguasa (Raja) yang kemudian diabsahkan (legitimasi) sebagai simbol yang diyakini masyarakat Jawa. Figure patung tersebut dalam kepercayaan Jawa sebagai kelengkapan ritual yang diletakkan di sentong tengah pada dalem dalam konteks rumah tradisional Joglo milik bangsawan atau priyayi. 3. Makna patung loro blonyo lebih merupakan sebuah pasangan oposisi binair, saling melengkapi satu sama lain atau dwitunggal. Dalam konteks pandangan Jawa patung sepasang yang menggambarkan penganten tersebut sebagai cerminan penyatuan yang mendatangkan kesuburan dan kemakmuran, kesuburan di sini dalam arti reproduksi biologis pada manusia, dan juga kesuburan tanaman. Dengan demikian makna loro blonyo dalam budaya Jawa lebih bersifat simbolik interpretative bagi masyarakat pendukungnya terutama kalangan agraris. 4. Konsep ritual merupakan bentuk penghormatan kepada Yang Widi dengan memberikan sesaji sebagai pengurbanan yang dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur. Mitos Dewi Sri-Sadono yang tercermin dalam simbolisme loro blonyo adalah merupakan salah satu kelengkapan ritual kesuburan di senthong tengah dalam pandangan budaya Jawan yang terkait dengan kosmologi masyarakat pendukungnya. Berdasarkan temuan-temuan di lapangan yang juga terangkum pada hasil simpulan dapat disarankan sebagai berikut: 1. Bagi komunitas muslim radikal hendaknya melihat patung loro blonyo bukan sebagai benda tandingan Tuhan yang menyebabkan orang menjadi syirik, melainkan menempatkan patung sebagai karya estetika murni yang bermakna komunikatif yaitu sebagai simbolisme akan harapan yang baik. 2. Bagi pihak kantor-kantor resmi pemerintahan terutama Pemerintah Kota Surakarta agar mengapresiasi patung loro blonyo dalam bentuk menempatkan di bagian ruang pimpinan sebagai manivestasi pengharapan akan kemakmuran. Sehingga nilai filosofi patung loro blonyo yang relevan dengan sendirinya akan lestari
Info Komputer
 
  • CCBot/2.0 http://commoncrawl.org/faq/
  • 54.162.105.241
  • Who's Online
     
    Randomize Profile
     
    Statistik
     
    Langganan RSS