header image
Kekhasan Bahasa Upacara Kematian Adat Jawa di Daerah Surakarta (Suatu Kajian Stilistika)
Nama Peneliti
Anggota Peneliti
Instansi/Jurusan : Jur. Sastra Daerah FSSR
Jenis Penelitian : Penelitian Dosen Muda
Lokasi
:
Bidang Ilmu : SASTRA/FILSAFAT
Tahun : 2007
No Telp :
Abstract :
Permasalahan dalam penelitian ini ada empat hal, yaitu (1) bagaimanakah pemanfaatan aspek bunyi dalam bahasa pedalangan, (2) keunikan morfologis, (3) pemilihan dan pemakaian kata-kata arkhais, dan (4) penggunaan di bahasa dalam bahasa upacara kematian adat Jawa di daerah Surakarta. Tujuan penelitian ini menjelaskan kekhususan pemakaian bahasa upacara kematian adat Jawa yang mencakup keempat hal di atas. Ancangan analisisnya menggunakan kajian stilistika dengan berorientasi atau berparameter linguistik, dan dalam penelitian ini menggunakan stilistika deskriptif, dengan menerapkan kajian stilistika tradisional dan modern. Penelitian ini termasuk studi kasus yang mengambil lokasi Surakarta. Data penelitian ini adalah bahasa dalam prosesi upacara kematian adat Jawa di daerah Surakarta yang digunakan oleh pambiwara dan pamedhar sabda, baik berupa data lisan maupun tulisan. Pengambilan sampel upacara kematian adat Jawa dilakukan dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan rekam, wawancara mendalam, dan teknik catat atau pustaka. Analisis datanya bersifat induktif dengan proses interaktif. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kekhasan bahasa upacara kematian adat Jawa di daerah Surakarta merupakan bahasa rinengga 'puitis, estetis' penuh nilai rasa 'ekspresi jiwa'. Potensi bahasa yang digunakan untuk membangun artifisial dan keartistikkan tersebut adalah adanya purwakanthi (swara, sastra, basa/lumaksita) 'persajakan runtut bunyi (vokal, konsonan, perulangan)' yang dapat berfungsi untuk memperindah bunyi dan menggambarkan suasana upacara; adanya afiksasi arkhais (ater-ater 'prefiks' {ka-D, ma-/maN-D, a-/aN-D atau ha-/haN-D, sa-D, pa-/paN-D}, seselan 'infiks' {-in-, -um-, -el-} dan konfiks {-in-D (-a, -an)}, {-um-D (-ing, -ning)} panambang 'sufiks' {-ing, -ning, -ira, -nira}, konfiks {ka-D (-an, -ing, -aken, -ipun)}, {a-/aN-D atau ha-/haN-D (-i, -aken)}, {sa-D}, {pa-/paN-D (-an, -ing, -ira)}, dwipurwa 'perulangan suku kata awal' dan konfiks {a-/aN-, N-, di-/dipun- + dwipurwa}, konfiks {dwipurwa + sufiks {-an, -ing, ipun)} yang, dapat berfungsi untuk penghias bunyi, merubah kelas dan arti kata; banyaknya kosa kata arkhais, yaitu dasanama 'sinonim', kata-kata kawi, tembung garba 'kata sandi'. Di bahasa yang dominan dalam bahasa upacara kematian adat Jawa adalah metafora dalam bentuk bebasan, dan pepindhan 'simile'.
Info Komputer
 
  • CCBot/2.0 http://commoncrawl.org/faq/
  • 54.158.253.134
  • Who's Online
     
    Randomize Profile
     
    Statistik
     
    Langganan RSS