header image
Bahasa Lagu-lagu Campursari di Daerah Surakarta (Suatu Kajian Stilistika)
Nama Peneliti
Anggota Peneliti
:
Instansi/Jurusan : Jur. Sastra Daerah FSSR
Jenis Penelitian : Penelitian Dosen Muda
Lokasi
:
Bidang Ilmu : SASTRA/FILSAFAT
Tahun : 2006
No Telp :
Abstract :
Endang Tri Winarni dan Sutarjo. 2007. Bahasa Lagu-lagu Campursari di Daerah Surakarta (Suatu Kajian Stilistika). Penelitian Dosen Muda. UNS Surakarta. Penelitian terhadap bahasa lagu-lagu campursari ini dilaksanakan dengan tujuan untuk.; (1) Mendeskripsikan pemanfaatan atau pemilihan bunyi-bunyi bahasa yang digunakan dalam syair lagu-lagu campursari. (2). Mendeskripsikan faktor kekhususan dan keunikan aspek morfologis bahasa lagu-lagu campursari. (3). Memerikan segi-segi pemilihan dan pemakaian kosa kata arkhais dalam syair bahasa lagu-lagu campursari. dan (4). Memerikan penggunaan gaya bahasa yang dominan dan sering digunakan dalam bahasa lagu-lagu campursari. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di daerah Surakarta; jenis penelitian ini termasuk penelitian lapangan; bentuk penelitian adalah kualitatif deskriptif; pengambilan sampel dengan purposive sample; data penelitian adalah tuturan dalam bahasa atau syair lagu-lagu campursari (lisan maupun tulisan) dapat berupa kata-kata, kelompok kata, kalimat-kalimat, tuturan metafora, dan berbagai gaya bahasa yang memperlihatkan kekhasan dan keunikan pada bahasa lagu-lagu campursari.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui tiga cara, yaitu dengan observasi dan rekam, wawancara mendalam, teknik pustaka. Analisis data menggunakan interactive model of analysis 'model analisis interaktif', yang meliputi reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Pemanfaatan atau pemilihan bunyi-bunyi bahasa yang digunakan dalam bahasa lagu campursari adalah adanya purwakanthi 'persajakan, runtut bunyi', baik purwakanthi swara 'asonansi' dengan suku terbuka dan tertutup, purwakanthi sastra 'aliterasi', maupun purwakanthi basa atau lumaksita 'repetisi, pengulangan'. (2) Faktor kekhasan dan keunikan morfologis yang mendukung keestetisan dalam bahasa campursari adalah adanya afiksasi arkhais yang berfungsi untuk (a) penghias kata atau bunyi agar rinengga 'puitis' dan arkhais. (b) Penghias kata atau bunyi agar macak 'indah'. Afiksasi tersebut berupa pemanfaatan: ater-ater {den-D} dan sufiks {den-D- (i, aken)}; sufiks {-ing}; seselan 'sisipan, infiks'{-in-D} dan {-um-D); panambang 'sufiks' {-ing, -ning}; dan dwipurwa 'perulangan suku kata awal' dan konfiks {dwipurwa + sufiks (-an, -ing, -e,)}. (3) Pemilihan dan pemakaian kosakata arkhais dalam bahasa campursari untuk menciptakan dan membangun bahasa rinengga/macak 'indah, hias, estetis, artifisial' amat produktif dan menyebar, terutama: dasanama 'sinonim', kata-kata kawi, tembung saroja, dan persandian (garba). (4) Gaya bahasa yang dominan dalam bahasa campursari adalah pepindhan 'simile', bebasan 'peribahasa', wangsalan 'sejenis teka-teki yang telah disediakan tebakannya secara tersamar'.
Info Komputer
 
  • CCBot/2.0 http://commoncrawl.org/faq/
  • 54.158.253.134
  • Who's Online
     
    Randomize Profile
     
    Statistik
     
    Langganan RSS